Ilustrasi, sumber foto: Unsplash.com/Toa Heftiba
Disadari atau tidak, kepribadian manusia terbentuk dari kerjasama yang kompak antara pikiran, emosi, dan perilaku yang sering melekat pada diri sendiri. Jika kepribadianmu terganggu, berarti telah terjadi gangguan perilaku akibat situasi yang terbentuk dari pengalaman pribadimu. Nah, biar kita lebih waspada terhadap bentuk-bentuk gangguan kepribadian yang ada, yuk kita bahas lebih detail di bawah ini.
1. Gangguan Kepribadian Schizotypal
Gangguan ini cenderung dialami oleh mereka yang sering curiga atau menganggap orang lain berbahaya. Mereka memiliki tingkat kepercayaan yang sangat rendah pada orang lain, dan biasanya takut dengan interaksi sosial, terutama interaksi langsung. Orang yang mengalami gangguan ini seringkali merasa sangat cemas dan menafsirkan perilaku orang lain secara tidak tepat atau bertentangan dengan fakta. Hal ini menyulitkan mereka untuk menjalin hubungan dengan orang lain, sehingga orang lain sering kali mempersepsikan mereka berperilaku dan berpikir aneh atau nyentrik. Mereka juga seringkali memiliki pola pikir yang tidak normal, seperti percaya pada hal-hal magis dan supernatural, tahayul, serta ilusi pengalaman supernatural.
Nah, salah satu faktor penyebab terjadinya kelainan ini adalah jika seseorang yang mengidap schizotypal erat hubungannya dengan seseorang yang memiliki kelainan yang sama yaitu perempuan. Selain itu, banyak yang beranggapan bahwa kelainan ini diakibatkan oleh sifat yang diturunkan, kejadian traumatis di masa lalu, seperti pelecehan atau disfungsi keluarga di masa kanak-kanak juga bisa menjadi faktor internal penyebab kelainan ini. Namun, tidak sedikit yang menganggap gejala gangguan ini mirip dengan gejala skizofrenia. Namun, orang dengan gangguan skizotipe memiliki episode psikotik yang lebih pendek melalui delusi dan halusinasi dibandingkan dengan skizofrenia.
Buat kamu yang pernah mengalami gangguan seperti ini nggak perlu minder atau merasa beda dari orang lain ya. Kamu bisa langsung berkonsultasi ke dokter, karena jika penanganan ini tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan penurunan kemampuan mental sosialmu. Mungkin kamu akan dituntut untuk mengkonsumsi obat dalam waktu yang lama, untuk membentuk pola pikir dan perilaku baru yang dapat meredakan gejala gangguan skizotipal ini.
2. Gangguan Kepribadian Antisosial
Siapa yang menyangka ansos atau antisosial juga merupakan gangguan kepribadian yang harus diwaspadai secepatnya? Nyatanya, gangguan kepribadian ini sangat berbeda dengan kepribadian introvert yang sering dianggap serupa oleh sebagian orang. Introvert hanyalah kepribadian yang bervariasi dan bukan gangguan. Sedangkan antisosial adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap manipulatif, tidak segan-segan berbohong sehingga menyulitkan kita untuk membedakan antara perkataan yang jujur dan bohong, mengabaikan aturan dan hukum, bersikap kasar, mengingkari hak orang lain, dan sering mempunyai motif. yang tidak masuk akal saat diungkapkan. Jika diabaikan, gangguan antisosial ini bisa merujuk pada gangguan sosiopat dan psikopat. Sosiopatik adalah gangguan di mana hati nurani seseorang rusak, sedangkan psikopat lebih parah karena minimal dan bahkan tidak memiliki hati nurani.
Biasanya seseorang yang memiliki gangguan antisosial tidak akan merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain, mereka seringkali jarang membicarakan masalahnya. Nah, jika kamu merasa salah satu orang terdekat mengalami hal yang sama, kamu bisa memintanya untuk memberitahumu dengan lembut dan tanpa paksaan. Cobalah untuk menenangkan hatinya agar dia merasa nyaman untuk menceritakannya. Setelah itu, minta dia berkonsultasi dengan spesialis. Namun, karena pengobatan ini biasanya kompleks, kamu dan orang terdekat juga harus bekerja sama untuk memotivasi pengidap gangguan ini agar ia tidak memiliki kecenderungan untuk menyendiri terlalu lama dan melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri, perempuan!
3. Ambang (Borderline Personality Disorder)
Gangguan ini juga sering diidentikkan dengan skizofrenia, namun sebenarnya berbeda. Orang yang mengalami gangguan ini dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi dan memengaruhi perubahan suasana hati, yang dapat menyebabkan stres hingga depresi. Biasanya orang dengan borderline disorder memiliki keinginan yang kuat untuk menyakiti diri sendiri secara fisik ketika mereka mulai merasa tidak berharga, bahkan menjadi cacat di depan orang lain. Gejala yang sering muncul pada gangguan ini adalah ketidakstabilan kesadaran pribadi, perilaku yang cenderung mengikuti impuls tiba-tiba, keinginan untuk melukai diri sendiri bahkan bunuh diri, hampir selalu merasa hampa dan terisolasi, perubahan suasana hati yang cepat berubah, keluarnya amarah yang dilepaskan dengan cara melukai. dirinya dan orang lain, dan memiliki ketakutan bahwa dia menciptakan dirinya sendiri.
Sebaiknya jangan menunda berkonsultasi dengan dokter jika kamu merasa teman atau diri sendiri memiliki tanda-tanda serupa. Sebab, penyebab kelainan ini belum bisa dipastikan, namun beberapa ahli mengatakan kemungkinan penyebabnya adalah masalah genetik, psikologis, dan sosial. Jadi, sebaiknya segera tanyakan pada dokter atau spesialis terkait untuk mengklarifikasi diagnosisnya. Nah, dalam masa penyembuhan, kamu harus mengurangi depresi dan kecemasan, tidak menggunakan obat-obatan terlarang, dan menjaga atau mengontrol mood sendiri agar tidak mudah panas. Ini diperlukan untuk mengurangi frekuensi gangguan yang mungkin muncul kembali. Selain itu, penanganan yang dianggap tepat adalah kolaborasi antara terapi psikologis dan terapi perilaku kognitif yang akan diatur oleh dokter spesialis atau profesional.
4. Gangguan Kepribadian Dependen
Jika kamu termasuk orang yang sering mengalami kecemasan yang berlebihan ketika merasa diabaikan atau diperhatikan oleh orang terdekatmu, dan sering merasa tergantung pada keputusan orang lain meskipun itu terkait dengan pilihan hidupmu sendiri, bisa jadi kamu pernah mengalami ketergantungan. gangguan kepribadian, perempuan. Biasanya gangguan ini sering membuat seseorang merasa tidak percaya dengan kemampuannya sendiri, sehingga terlihat lebih pasif dan bergantung pada orang lain. Mereka yang mengalami gangguan ini berisiko mengalami depresi, fobia, dan mempengaruhi penggunaan obat-obatan terlarang, jika sudah bergantung pada orang yang salah. Penyebab pasti kelainan ini belum bisa dipastikan, namun beberapa ahli berpendapat ada kemungkinan bahwa faktor genetik dan lingkungan yang membentuk pola pikirnya bisa menjadi salah satu penyebab munculnya kelainan ini pada tubuh seseorang.
Untungnya, kelainan ini bisa mengalami penurunan frekuensinya seiring bertambahnya usia. Namun, meskipun kamu yang memiliki kelainan ini ingin mengobatinya tanpa harus menunggu kehilangan frekuensi alami, kamu perlu melakukan psikoterapi dengan metode terapi wicara, dan cenderung tanpa menggunakan obat-obatan. Biasanya terapi dilakukan dalam jangka pendek, karena jika melakukan terapi dalam waktu lama dikhawatirkan orang yang mengalami gangguan ini akan memiliki ketergantungan pada terapis. Bagi orang tua dan calon orang tua, agar anaknya tidak terkena gangguan ini, sebaiknya hindari pola asuh otoriter, agar anak dapat menentukan pilihan sendiri berdasarkan akal sehat dan naluri.
5. Gangguan Kepribadian Anankastik (Obsessive Compulsive Personality Disorders)
Gangguan anancastic menyebabkan seseorang memiliki perfeksionisme yang akut dan keinginan untuk mengontrol semua aspek kehidupannya. Tidak jarang mereka lebih memperhatikan detail, urutan, ketertiban, bahkan lupa untuk apa melakukan sesuatu dan tentunya akan menghambat produktivitas dan kinerjanya. Kebiasaan lain adalah ketika seseorang yang mengalami gangguan ini melakukan sesuatu, kemudian dia menyadari bahwa dia telah melewatkan bagian tertentu, maka dia akan segera mengulangi aktivitas tersebut dari awal karena merasa bersalah telah melewatkan urutan tersebut. Ini tentu menyia-nyiakan banyak waktu, tetapi dia tidak peduli dan lebih peduli tentang mematuhi perintah yang dia harus lakukan. Salah satu penyebab selain faktor genetik adalah perilaku orang tua yang terlalu menuntut dan mengontrol anaknya. Nah, jika kelainan ini dibiarkan, maka akan menimbulkan kecemasan dan stres yang berlebihan.
Dokter spesialis biasanya melakukan psikoterapi untuk menangani gangguan ini, serta dukungan yang hangat dan solid dari orang-orang terdekat mereka. Selain itu, kamu perlu menjauhkan orang-orang yang memiliki kebiasaan mengontrol dan mengontrol secara berlebihan dari orang-orang yang mengalami gangguan ini, ya!
Bagaimana? Apakah kamu sudah memiliki gambaran tentang gejala dari beberapa gangguan kepribadian di atas? Ayo tingkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental diri sendiri dan orang terdekatmu! Perlu diingat juga bahwa penderita gangguan kepribadian tidak boleh dijauhi, melainkan harus dipeluk dan tidak perlu dibedakan.
PokerTulip | Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya



