Ruang instalasi laboratorium RSUP Kariadi Semarang.(KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA)
Pengembangan Vaksin Nusantara tidak hanya menimbulkan pertanyaan dari banyak pihak. Baru-baru ini dikabarkan tim peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengundurkan diri dari tim pembuat Vaksin Nusantara.
Dua dosen dan dekan FK-KMK UGM memutuskan tidak terlibat dalam penelitian Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.
Lalu bagaimana dengan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) dan RSU Dr. Kariadi Semarang yang terlibat dalam pengembangan Vaksin Nusantara? Dimana perkembangan penelitian Vaksin Nusantara sampai saat ini?
Peneliti Vaksin Nusantara dari Undip Semarang menolak berkomentar
Saat dihubungi melalui aplikasi pesan WhatsApp, Rabu (10/3/2021), salah satu anggota tim peneliti Vaksin Nusantara, Dr Yetty Movieta Nency, menolak berkomentar mengenai perkembangan penelitian yang sedang dilakukan. Termasuk soal keluarnya peneliti UGM dari tim peneliti Vaksin Nusantara.
''Tunggu saja nanti publikasi resminya. Sekarang, kami biar fokus meneliti,” ujarnya.
Perkembangan penelitian Vaksin Nusantara akan dipublikasikan secara resmi
Saat ditanya apakah Vaksin Nusantara sudah memasuki uji klinis tahap kedua, dosen Fakultas Kedokteran Undip itu mengaku belum masuk uji klinis tahap kedua saat ini. Namun, dia secara khusus meminta untuk bisa konfirmasi ke bagian Litbangkes Kementerian Kesehatan.
"Langsung hubungi Litbangkes saja, karena yang punya proyek ini mereka," ujarnya.
RS Dr Kariadi Semarang pun memberikan tanggapan yang sama saat ditanya tentang perkembangan penelitian Vaksin Nusantara.
Untuk diketahui, penelitian vaksin dengan metode sel dendritik autolog itu dilakukan di laboratorium rumah sakit pemerintah pusat.
'' Untuk publikasi penelitian vaksin sementara cukup ya. Nanti menunggu perkembangan baru nggih (red: ya),” kata Humas RSUP Dr Kariadi, Parna, saat dihubungi, Rabu (10/3/2021).
Tim peneliti Vaksin Nusantara belum siap untuk diwawancarai
Parna pun meminta maaf, karena tim peneliti Vaksin Nusantara di RS Dr Kariadi tidak bisa memberikan wawancara kepada awak media.
"Mohon maaf tim minta waktu agar bisa melanjutkan tugas penelitian yang masih panjang. Jadi mohon maaf untuk sementara belum bisa melayani wawancara. Terima kasih," katanya.
Hal senada disampaikan Humas Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Utami Setyowati, saat dikonfirmasi belum lama ini.
"Sudah saya tanyakan ke tim dokter peneliti. Untuk saat ini sedang fokus penyempurnaan fase (uji klinis) I. Untuk sementara belum bersedia untuk di-interview. Mohon maaf," ucapnya.
Sebagai informasi, tim pengembangan dan penelitian Vaksin Nusantara terdiri dari PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) dengan AIVITA Biomedical dari Amerika Serikat, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, RSUD Dr. Kariadi Semarang, dan Litbangkes Kemenkes.
Pengembangan Vaksin Nusantara telah dilakukan sejak 12 Oktober 2020
Vaksin Nusantara dikembangkan dengan menggunakan teknologi sel dendritik, di mana satu vaksin dibuat hanya untuk satu orang, sehingga Terawan dan timnya mengklaim aman bagi penderita penyakit komorbid atau bawaan.
Cara kerja Vaksin Nusantara berasal dari sel dendritik autologus (komponen sel darah putih) yang terpapar antigen protein S dari SARS-COV-2. Sel dendritik yang telah mengenali antigen akan disuntikkan kembali ke dalam tubuh. Di dalam tubuh, sel dendritik ini akan memicu sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS COV-2.
Berbagai proses telah dilalui dalam pengembangan vaksin sejak 12 Oktober 2020, dengan dibentuknya tim uji klinis vaksin sel dendritik melalui KMK No. HK.01.07/MENKES/2646/2020. Kemudian, tanggal 23 Desember 2020 sampai 6 Januari 2021 penyuntikan uji klinis fase pertama hingga 11 Januari 2021, dan 3 Februari 2021 dilakukan monitoring dan evaluasi.
PokerTulip | Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya



